REPUBLIKA.CO.ID, ZAMBOANGA -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte,
menandatangani perintah eksklusif membuat Badan Penyusunan UU Otonomi
Baru daerah Muslim di Selatan yang lebih inklusif. Diungkapkan oleh
Kantor Penasihat Presiden, Komite Transisi Bangsamoro (BTC) diminta
menambah jumlah anggota dari 15 menjadi 21 orang.
Dilansir dari Anadolu Agency,
Selasa (8/11), 11 orang anggota akan dicalonkan oleh Front Pembebasan
Islam Moro (MILF), dan 10 lain diusulkan pemerintah. Sejak Duterte
memenangkan pemilu 9 Mei lalu, pemerintah Filipina memang terlibat
langsung untuk mengakomodasi perjanjian damai kelompok Moro di Mindanao.
Hal
itu dimaksudkan untuk mengakhir konflik puluhan tahun yang telah
mengakibatkan korban jiwa sekitar 100 ribu orang. BTC bertugas menyusun
dasar hukum baru bagi Bangsa Moro, bertujuan menyegel kesepakatan damai
2014, dan membuka jalan Bangsa Moro, entitas politik baru pengganti
Daerah Otonom Muslim Mindanao.
Kesepakatan MILF masih dalam tahap
penyelesaian, dan disiapkan untuk pemilu 2016. "Saya hanya ingin
perdamaian di Mindanao terwujud dan bisa dilakukan dengan damai tanpa
pergolakan, kami akan berterima kasih kepada Tuhan yang tidak membiarkan
setetes darah pun tumpah dalam usaha baru ini," kata Duterte.
Ia
menambahkan, pembangunan sistem pemerintahan federal akan menjadi
struktur terbaik yang akan diterima semua masyarakat adat, termasuk
Moro. Duterte bersumpah, akan memperbaiki ketidakadilan sejarah yang
menimpa masyarakat adat Moro dan adat lain, mengusulkan konstitusi
memberikan daerah otonom.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar